Ali bin Abi
Thalib dan Fatimah Az-Zahra
Cinta Fatimah
dan Ali luar biasa indah,terjaga kerahasiaannya dalam sikap,ekspresi dan
kata,hingga ahirnya Allah menyatukan mereka dalam suatu
pernikahan.Konon,saking rahasianya,setan saja tidak tahu menahu soal cinta
diantara mereka.Subhanallah.
Ali terpesona
pada Fatimah sejak lama,disebabkan oleh kesantunan,ibadah,kecekatan kerja dan
paras puteri kesayangan Rasulullah Saw.itu.Ia pernah tertohok dua kali saat Abu
Bakar dan Umar bin Khatab melamar Fatimah sementara dirinya belum siap untuk
melakukannya.Namun kesabarannya berbuah manis,lamaran kedua orang sahabat yang
tak diragukan lagi kesholehannya tersebut ternyata ditolak Rasulullah
Saw.Akhirnya Ali memberanikan diri dan ternyata lamarannya kepada Fatimah yang
hanya bermodal baju besi diterima.
Di sisi
lain,Fatimah ternyata telah memendam cintanya kepada Ali sejak lama.Dalam
suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari setelah menikah Fatimah berkata
kepada Ali,”Maafkan aku,karena sebelum menikah denganmu aku pernah satu kali
merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda dan aku ingin menikah dengannya”
Alipun bertanya mengapa ia tetap mau menikah dengannya,dan apakah Fatimah
menyesal menikah dengannya.Sambil tersenyum Fatimah menjawab,”Pemuda itu adalah
dirimu”
Umar bin Abdul
Aziz.
Umar bin Abdul
Aziz,khalifah termasyhur dalam Bani Umayyah,suatu kali jatuh cinta pada seorang
gadis,namun isterinyaFatimah binti Abdul Malik tak pernah mengizinkannya untuk
menikah lagi.Suatu saat dikisahkan bahwa Umar mengalami sakit akibat kelelahan
dalam mengatur pemerintahan.Fatimahpun datang membawa kejutan untuk menghibur
suaminya.Ia menghadiahkan gadis yang telah lama dicintai Umar,begitupun si
gadis mencintai Umar.Namun Umar malah berkata,”Tidak! Ini tidak boleh
terjadi.Saya benar-benar tidak mengubah diri saya kalau saya kembali kepada
dunia perasaan semacam itu,”
Umar
memenangkan cinta yang lain,karena memang ada cinta diatas cinta.Akhirnya ia
menikahkan gadis itu dengan pemuda lain.Tidak ada cinta yang mati disini.Karena
sebelum meninggalkan rumah Umar,gadis itu bertanya,”Umar,dulu kamu pernah
mencintaiku.Tapi kemanakah cinta itu sekarang?” Umar bergetar haru,tapi ia
kemudian menjawab.”Cinta itu masih tetap ada,bahkan kini rasanya lebih dalam!”
Abdurrahman bin
Abu Bakar
Abdurrahman bin
Abu Bakar Ash Shiddiq dan isterinya Atika,amat saling mencintai satu sama lain
sehingga Abu Bakar merasa khawatir dan pada akhirnya meminta Abdurrahman
menceraikan isterinya karena takut cinta mereka melalaikan dari jihad dan
ibadah.Abdurrahman pun menuruti perintah ayahnya,meski cintanya pada sang
isteri begitu besar.
Namun tentu
saja Abdurranhman tak pernah bisa melupakan isterinya.Berhari-hari ia larut
dalam duka meski ia telah berusaha sebaik mungkin untuk tegar.Perasaan
Abdurrahman itupun melahirkan syair cinta indah sepanjang masa:
Demi
Allah,tidaklah aku melupakanmu
Walau mentari
tak terbit meninggi
Dan tidaklah
terurai air mata merpati itu
Kecuali berbagi
hati
Tak pernah
kedapati orang sepertiku
Menceraikan
orang seperti dia
Dan tidaklah
orang seperti dia dithalaq karena dosanya
Dan berakhlaq
mulia,beragama dan bernabikan Muhammad
Budi pekerti
tinggi,bersifat pemalu dan halus tutur katanya
Akhirnya hati
sang ayah pun luluh.Mereka diizinkan untuk rujuk kembali.Abdurrahman pun
membuktikan bahwa cintanya suci dan takkan mengorbankan ibadah dan
jihadnya di jalan Allah.Terbukti ia syahid tak berapa lama kemudian.
Rasulullah SAW
dan Khadijah binti Khuwalid
Teladan dalam
kisah cinta terbaik tentunya datang dari insan terbaik sepanjang masa:
Rasulullah Saw.Cintanya kepada Khadijah tetap abadi walaupun Khadijah telah
meninggal.Alkisah ternyata Rasulullah telah memendam cintanya pada Khadijah
sebelum mereka menikah.Saat sahabat Khadijah,Nafisah binti Muniyah,menanyakan
kesedihan Nabi Saw. untuk menikahi Khadijah,maka Beliau menjawab,”Bagaimana
caranya?” Ya,,seolah-olah Beliau memang telah menantikannya sejak lama.
Setahun setelah
Khadijah meninggal,ada seorang wanitashahabiyah yang menemui Rasulullah Saw.
Wanita ini bertanya,”Ya,Rasulullah,mengapa engkau tidak menikah? Engkau
memiliki 9 keluarga dan harus menjalankan seruan besar”
Sambil menangis
Rasulullah Saw menjawab,”Masih adakah orang lain setelah Khadijah?”
Kalau saja
Allah tidak memerintahkan Muhammad Saw untuk menikah,maka pastilah Beliau tidak
akan menikah selama-lamanya.Nabi Muhammad Saw menikah dnegan Khadijah layaknya
para lelaki.Sedangkan pernikahan-pernikahan setelah itu hanya karena tuntutan
risalah Nabi Saw,Beliau tidak pernah dapat melupakan isteri Beliau ini walaupun
setelah 14 tahun Khadijah meninggal.
Masih banyak
lagi bukti-bukti cinta dahsyat nan luar biasa islami Rasulullah Saw kepada
Khadijah.Subhanallah.
Rasulullah SAW
dan Aisyah
Jika Rasulullah
Saw ditanya siapa isteri yang paling dicintainya,Rasul menjawab,”Aisyah”.Tapi
ketika ditanya tentang cintanya pada Khadijah Beliau menjawab,”cinta itu Allah
karuniakan kepadaku”.Cinta Rasulullah pada keduanya berbeda,tapi keduanya lahir
dari satu yang sama: pesona kematangan.
Pesona Khadijah
adalah pesona kematangan jiwa.Pesona ini melahirkan cinta sejati yang Allah
kirimkan kepada Nabi Saw.Cinta ini pula yang masih menyertai nama Khadijah
tatkala nama tersebut disebut-sebut setelah Khadijah tiada,sehingga
Aisyah cemburu padanya.
Sedangakan
Aisyah adalah gabungan dari pesona kecantikan,kecerdasan dan kemudian
kematangan dini.Ummu Salamah berkata,”Rasul tidak dapat menahan diri jika
bertemu dengan Aisyah”
Banyak
kisah-kisah romantis yang menghiasi kehidupan Nabi Muhamad dan
isterinya,Aisyah.Rasul pernah berlomba lari dengan Aisyah.Rasul pernah bermanja
diri kepada Aisyah.Rasul memanggil Aisyah dengan panggilan kesayanagn
“Humaira”.Rasul pernah disisirkan rambutnya dan masih banyak lagi kisah
serupa tentang romantika suami-isteri.
Thalhah bin
‘Ubaidillah
Berikut ini
kutipan kisah Thalhah bin ‘Ubaidillah.
Suatu hari ia
berbincang dengan ‘Aisyah,isteri sang Nabi,yang masih terhitung
sepupunya.Rasulullah datang dan wajah beliau pias tak suka.Dengan
isyarat,beliau Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam maminta Aisyah masuk ke dalam
bilik.Wajah Thalhah memerah.Ia undur diribersama gumam dalam hati,”Beliau
melarangku berbincang dengan Aisyah.Tunggu saja,jika beliau telah diwafatkan
Allah,takan kubiarkan orang lain melamar Aisyah”
Satu saat
dibisakannya maksud itu pada seorang kawan,”Ya, akan kunikahi Aisyah jika Nabi
telah wafat”
Gumam hati dan
ucapan Thalhah disambut wahyu.Allah menurunkan firman-Nya kepada Sang Nabi
dalam ayat ke-53 surat Al-Ahzab.”Dan apabila kalian meminta suatu hajat kepada
isteri Nabi itu maka,mintalah pada mereka dari balik hijab.Demikian itu lebih
suci bagi hati kalian dan hati mereka.Kalian tiada boleh menyakiti Rasulullah
dan tidak boleh menikahi isteri-isterinya sesudah wafatnya
selama-lamanya”
Ketika ayat itu
dibacakan padanya,Thalhah manangis.Ia lalu memerdekakan
budaknya,menyumbangkan kesepulah untanya untuk jalan Allah,dan menunaikan
ibadah haji dengan berjalan kaki sebagai taubat dari ucapannya.Kelak,dengan
penuh cinta dinamainya puteri kecil yang disayanginya dengan asma Aisyah.Aisyah
binti Thalhah.Wanita jelita yang kelak menjadi permata zamannya dengan
kecantikan,kecerdasan dan kecermelangannya.Persis seperti Aisyah binti Abu
Bakar yang pernah dicintai Thalhah.
Kisah cinta
yang membawa surga
Al-Mubarrid
menyebutkan dari Abu Kamil dari Ishaq bin Ibrahim dari Raja’ bin Amr An-Nakha’i,ia
berkata,”Adalah di Kufah,terdapat pemuda tampan,ia rajin dan taat.Suatu waktu
ia berjunjung ke kampung dari Bani An-Nakha’.
Dia melihat
seorang wanita cantik dari mereka sehingga dia jatuh cinta dan kasmaran.Dan
ternyata cintanya pada si wanita cntik itu tak bertepuk sebelah tangan.
Karena sudah
jatuh cinta akhirnya pemuda itu mengutus seseorang untuk melamar gadis
tersebut.Tetapi si ayah mengabarkan bahwa puterinya telah dijodohkan
dengan sepupunya.Walau demikian,cinta keduanya tak bisa padam bahkan semakin
berkobar.Si wanita akhirnya mengirim pesan lewat seseorang untuk si
pemuda,bunyinya,”Aku telah tahu betapa besar cintamu kepadaku dan betapa besar
pula aku diuji dengan kamu.Bila kamu setuju,aku akan mengunjungimu atau aku
akan mempermudah jalan bagimu untuk datang menemuiku di rumahku “
Dijawab oleh
pemuda tadi melalui orang suruhannya,”Aku tidak setuju dengan 2 alternatif
itu,sesungguhnya aku merasa takut apabila aku berbuat maksiat pada Rabbku akan
adzab yang akan menimpaku pada hari yang besar.Aku takut pada api yang tidak
pernah mengecil nyalanya dan tidak pernah padam kobarannya”
Ketika
disampaikan pesan kepada si wanita, dia berkata,” Walau demikian,rupanya dia
masih takut kepada Allah? Demi Allah,tak ada seseorang yang lebih berhak untuk
bertaqwa kepada Allah dari orang lain.Semua hamba sama-sama berhak untuk itu”
Kemudian dia meninggalkan urusan dunia dan menyingkirkan
perbuatan-perbuatan buruknya serta mulai beribadah mendekatkan diri
kepada Allah.Akan tetapi,dia masih menyimpan perasaan cinta dan rindu
pada sang pemuda.Tubuhnya mulai kurus karena menahan rindunya,sampai akhirnya
dia meninggal dunia karenanya.Dan pemuda itu seringkali berziarah ke
kuburnya,Dia menangis dan mendo’akannya.Suatu waktu ia tertidur di atas
kuburannya.Dia bermimpi berjumpa dengan kekasihnya dengan penampilan yang
sangat baik.Dalam mimpi dia sempat bertanya,”Bagaimana keadaanmu? Dan apa yang
kau dapatkan setelah meninggal?”
Dia
menjawab,”Sebaik-baik cinta wahai orang yang bertanya,adalah cintamu.Sebuah
cinta yang dapat mengiring menuju kebaikan”
Pemuda itu
bertanya,”Jika demikian,kemanakah kau menuju?” Dia menjawab,”Aku sekarang
menuju pada kenikmatan dan kehidupan yang tak berakhir.Di Surga kekekalan yang
dapat kumiliki dan tidak akan pernah rusak”
Pemuda itu
berkata,”Aku harap kau selalu ingat padaku disana,sebab aku disini juga tidak
melupakanmu”.Dia jawab,”Demi Allah,aku juga tidak melupakanmu.Dan aku meminta
kepada Tuhanku dan Tuhanmu (Allah SWT) agar kita nanti bisa
dikumpulkan.Maka,bantulah aku dalam hal ini dengan kesungguhanmu dalam ibadah”
Si pemuda
bertanya,”Kapan aku bisa melihatmu?” jawab si wanita,”Tak lama lagi kau akan
datang melihat kami” Tujuh hari setelah mimpi itu berlalu,si pemuda dipanggil
oleh Allah menuju kehadiratNya,meninggal dunia.
Ummu Sulaim dan
Abu Thalhah
Ummu Sulaim
merupakan janda dari Malik bin Nadhir.Abu Thalhah yang memendam rasa cinta dan
kagum akhirnya memutuskan untuk menikahi Ummu Sulaim tanpa banyak
pertimbangan.Namun diluar dugaan,jawaban Ummu Sulaim membuat lidahnya menjadi
kelu dan rasa kekecewaan begitu menyesakkan dada,meski Ummu Sulaim berkata
dengan sopan dan rasa hormat,
“Sesungguhnya,saya
tidak pantas menolak orang yang seperti engkau,wahai Abu Thalhah.Hanya sayang
engkau seorang kafir dan saya seorang musllimah.Maka tak pantas bagiku menikah
denganmu.Coba anda tebak apa keinginan saya?”
“Engkau
menginginkan dinar dan kenikmatan”. “Yang saya inginkan hanya engkau segera
memeluk agama Islam” tukas Ummu Sulaim tandas.
Tetapi saya
tidak mengerti siapa yang akan menjadi pembimbingku?” tanya Abu Thalhah.
“Tentu saja
pembimbingmu adalah Rasulullah sendiri,”tegas Ummu Sulaim.
Maka Abu
Thalhah pun bergegas pergi menjumpai Rasulullah Saw. yang mana saat itu tengah
duduk bersama para sahabatnya.Melihat kedatangan Abu Thalhah,Rasulullah Saw
berseru,” Abu Thalhah telah datang kepada kalian,dan cahaya Islam tampak
pada kedua bola matanya”
Ketulusan hati
Ummu Sulaim benar-benar terasa mengharukan relung-relung hati Abu Thalhah.Ummu
Sulaim hanya akan mau dinikahi dengan keislamannya tanpa tergiur oleh
kenikmatan yang ia janjikan.Wanita mana lagi yang lebih pantas menjadi isteri
dan ibu asuh anak-anaknya selain Ummu Sulaim? Hingga tanpa terasa di hadapan
Rasulullah Saw. lisan Abu Thalhah basah mengulang-ulang kalimat “Saya mengikuti
ajaran Anda,wahai Rasulullah.Saya bersaksi,bahwa tidak ada Ilah yang berhak
diibadahi kecuali Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusanNya”
Menikahlah
Ummu Sulaim dengan Abu Thalhah,sedangkan maharnya adalah keislaman
suaminya.Hingga Tsabit-seorang perawi hadist- meriwayatkan dari Anas,”Sama
sekali aku belum pernah mendengar sorang wanita yang maharnya lebih mulia
dari Ummu Sulaim,yaitu keislaman suaminya”
Selanjutnya
mereka menjalani kehidupan rumah tangga yang damai dan sejahtera dalam
naungan cahaya Islam.
Kisah sorang
pemuda yang menemukan apel
Alkisah ada
seorang pemuda yang ingin menuntut ilmu.Di tengah perjalanan ia haus dan
singgah sebentar di sungai yang airnya jernih.Dia langsung mengambil air dan
meminumnya.Tak berapa lama kemudian ia melihat sebuah apel yang terbawa arus
sungai,diapun mengambilnya dan segera memakannya.Setelah ia memakan segigit
apel itu dia berkata,” Astagfirullah”
Dia merasa
bersalah karena telah memakan apel milik orang lain tanpa meminta izin terlebih
dahulu.”Apel ini pasti punya pemiliknya,lancang sekali aku sudah memakannya.Aku
harus menemui pemiliknya dan menebus apel ini”
Akhirnya dia
menunda perjalanan menuntut ilmu dan pergi menemui sang pemilik apel dengan
menyusuri bantaran sungai unt7uk sampai kerumah pemilik apel.Tak lama kemudian
ia sudah sampai ke rumah sang pemilik apel.Dia melihat apel tumbuh dengan
lebat.
“Assalamualaikum...”
“Walaikumsalam
wr,wb” jawab seorang lelaki tua dari dalam rumahnya.
Pemuda itu
dipersilakan duduk dan dia pun langsung mengatakan segala sesuatunya tanpa ada
yang dikurangi dan ditambahi.Bahwa ia telah lancang memakan apel yang terbawa
arus sungai.
“Berapa harus
kutebus harga apel ini agar kau ridha apel ini aku makan pak tua?” tanya pemuda
itu.
Lalu pak tua
itu menjawab,”Tak usah kau bayar apel itu,tapi kau harus bekerja selama 3 tahun
tanpa dibayar,apakah kaku mau?”
Pemuda itu
tampak berpikir,karena untuk segigit apel dia harus membayar dengan bekerja di
rumah bapak itu selama 3 tahun dan itupun tanpa digaji,tapi hanya itu
satu-satunya pilihan yang harus diambilnya agar bapak itu ridha apelnya ia
makan.”Baiklah pak,saya mau”
Alhasil pemuda
itu bekerja di kebun sang pemilik apel tanpa dibayar.Hari berganti
hari,minggu,bulan dan tahun pun berlalu.Tak terasa sudah 3 tahun
iabekerja di kebun itu.Dan hari terakhir ia ingin pamit kepada pemilik
kebun.
“Pak
tua,sekarang waktuku bekerja di tempatmu sudah berakhir,apakah sekrang
kau ridha apelmu sudah aku makan?’
Pak tua itu
diam sejenak,”Belum”
Pemuda itu
terhenyak.”Kenapa pak tua? Bukankah aku sudah bekerja selama 3 tahun di
kebunmu?’
“Ya,tapi aku
tetap tidak ridha jika kau belum melakukan satu permintaanku lagi”
“Apa itu pak
tua?”
“Kau harus
menikahi puteriku,apa kau mau?”
“Ya aku mau”
jawab pemuda itu.
Bapak itu
mengatakan lebih lanjut.”Tapi puteriku buta,tuli,bisu dan lumpuh,apakah kau
mau?”
Pemuda itu
tampak berpikir,bagaimana tidak...dia akan menkahi gadis yang tidak pernah ia
kenal dan gadis itu cacat,dia buta,tuli,bisu dan lumpuh.Bagaimana ia bisa
berkomunikasi nantinya? Tapi iapun ingat kembali dengan segigit apel yang
telah dimakannya.Dan diapun menyetujui untuk menikah dengan anak pemilik kebun
apel itu untuk mencari ridha atas apel yang sudah dimakannya.
“Baiklah
pak,aku mau”
Segera
pernikahan itu dilaksanakan.Setelah ijab kabul sang pemuda itupun masuk kamar
pengantin.Dia mengucapkan salam dan betapa kagetnya dia ketika mendengar
salamnya dibalas dari dalam kamarnya.Seketika itupun ia berlari menuju tempat
pak tua itu yang sudah menjadi mertuanya.
“Ayahanda...siapakah
wanita yang ada di dalam kamar pengantinku? Kenapa aku tidak menemukan
isteriku?”
Pak tua itu
tersenyum dan menjawab,” Masuklah nak,itu kamarmu dan yang di dalam sana
adalah isterimu”
Pemuda itu
tampak bingung.”Tapi ayahanda,bukankah isteriku buta,tuli,tapi kenapa dia bisa
mendengar salamku? Bukankah dia bisu,tapi kenapa bisa menjawab salamku?” Pak
tua itu tersenyum lagi dan menjelaskan,” Ya,memang dia buta,buta dari segala
hal yang dilarang Allah.Dia tuli,tuli dari segala hal yang tidak pantas
di dengarnya dan dilarang Allah.Dia memang bisu,bisu dari hal yang sifatnya
sia-sia dan dilarang Allah,dan dia lumpuh,karena tidak bisa berjalan ke
tempat-tempat yang maksiat”
Pemuda itu
hanya terdiam dan mengucap lirih,”Subhanallah...”
Dan merekapun
hidup berbahagia dengan cinta dari Allah.
Zulaikah dan
Yusuf A.S.
Cinta Zulaikah
kepada Yusuf AS konon begitu dalam hingga Zulaikah takut cintanya kepada Yusuf
merusak cintanya kepada Allah Swt.Berikut edikit ulasan tentang cinta mereka:
Zulaikah adalah
seorang puteri raja sebuah kerajaan di barat (Maghrib) negeri Mesir.Beliau
seorang puteri yang cantik menarik.Beliau bermimpi bertemu dengan seorang
pemuda menarik rupa parasnya dengan pribadi yang amanah dan mulia.Zulaikha pun
jatuh hati padanya.Kemudian beliau bermimpi lagi bertemu dengannya tetapi tidak
tahu namanya.
Kali berikutnya
beliau bermimpi lagi,lelaki tersebut memperkenalkannya sebagai Wazir kerajaan
Mesir.Kecintaan dan kasih sayang Zulaikha kepada pemuda tersebut terus berputik
menjadi rindu dan rawan sehingga beliau menolak semua pinangan putera raja yang
lain.Setelah bapanya mengetahui isi hatin puterinya,bapanya pun mengatur
risikan ke negeri Mesir sehingga menghasilkan majlis pernikahan dengan Wazir
negeri Mesir.
Memang Wazir
tersebut atau Al Aziz bagi kali pertama,hancur luluh dan kecewalah hati
Zulaikha.Hati hampa dan amat terkejut,bukan wajah tersebut yang beliau temui di
dalam mimpi dahulu.Bagaimanapun ada suara ghaib berbisik padanya,”Benar,ini
bukan pujaan hati kamu.Tetapi hasrat kamu kepada kekasih kamu yang sebenarnya
akan tercapai melauinya.Janganlah kamu takut kepadanya.Mutiara kehormatan
engkau sebagai perawan selamat bersama-sama dengannya”
Perllu diingat
sejarah Mesir menyebut,Wazir diraja Mesir tersebut adalah seorang kasi,yang dikehendaki
berkhidmat sepenuh masa kepada baginda raja.Oleh yang demikian Zulaikha terus
bertekad untuk terus taat kepada suaminya karena ia bersamanya.
Demikian masa
berlalu sehingga suatu hari Al Aziz membawa pulang Yusuf AS. Yang dibelinya di
pasar.Sekali lagi,Zulaikha terkejut besar,itulah Yisif yang dikenalinya di
dalam mimpi.Tampan,menarik dan menawan.
Sabda
NabiSaw. Diriwayatkan oleh Hammad dari Tsabit bin Anas memperjelasnya:
“Yusuf dan ibunya telah diberi oleh Allah separuh kecantikan dunia”
Kisah Zulaikha
dan Yusuf direkam di dalam Al-Qur’an pada surah Yusuf ayat 21 sampai 36 dan
ayat 51.Selepas ayat tersebut Al-Qur’an tidak menceritakan kelanjutan hubungan
Zulaikha dengan Yusuf AS.Namun Ibn Katsir di dalam Tafsir Surah Yusuf memetik
bahwa Muhammad bin Ishak berkata bahwa kedudukan yang diberikan kepada Yusuf AS
oleh raja Mesir adalah kedudukan yang dulunya dimiliki oleh suami Zulaikha yang
telah dipecat.Juga disebut-sebut bahwa Yusuf telah beristerikan Zulaikha
sesudah suaminya meninggal dunia,dan diceritakan bahwa pada suatu ketika
berkatalah Yusuf kepada Zulaikha setelah ia menjadi isterinya,”Tidakkah keadaan
dan hubungan kita sekarang ini lebih baik dari apa yang pernah engkau
inginkan?”
Zulaikha
menjawab,”Jangankan engkau menyalahkan aku hai kekasihku,aku sebagai wanita
yang cantik,muda belia bersuamikan seorang pemuda yang berketerampilan
dingin,menemuimu sebagai pemuda yang tampan,gagah perkasa bertubuh indah,apakah
salah bila aku jatuh cinta kepadamu dan lupa akan kedudukanku sebagai wanita yang
bersuami?”
Dikisahkan
Yusuf menikahi Zulaikha dalam keadaan gadis (perawan) dan dari perkimpoian itu
memperoleh dua orang putera: Ifraitsim bin Yusuf dan Maisya bin Yusuf.
Subhanallah,sungguh
kisah cinta yang luar biasa bukan?
Semoga bermanfaat
^^
0 komentar:
Posting Komentar
Nah...setelah membaca postingan diatas, alangkah baiknya teman-teman semua memberikan komentar di bawah ini baik berupa kritik atau saran atau lain-lain. Cuma titik tok juga gak apa-apa kok ^^
Monggo..